Pengusaha Enggan Kembangkan Industri Hilir Sawit

entrepreneur-potential-640

by bisnis indonesia.

MEDAN: Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memperkirakan pada 2015 rasio industri turunan (hilir) minyak sawit Indonesia akan meningkat menjadi 60% dari 40% saat ini seiring dengan semakin kondusifnya aturan bea keluar (BK) minyak sawit dan produk turunannya.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat M. Sinaga menegaskan saat ini rasio komposisi industri minyak sawit Indonesia baru 40% produk turunan dan 60% berupa minyak sawit mentah.
"Pada 2015 diperkirakan komposisi industri berbahan baku minyak sawit bakal berubah menjadi 60% produk hilir dan 40% berupa minyak," ujarnya hari ini.
Menurut dia, ketidakmampuan industri hilir minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia untuk berkembang terkait dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 223 tahun 2007 yang menetapkan biaya keluar (BK) CPO dan produk turunannya sama besar.
Hal ini, kata dia, membuat para pengusaha lebih tertarik mengekspor produk minyak sawit dalam bentuk CPO dibandingkan dengan produk hilir seperti fatty acidoleokimia, dan minyak goreng.
GIMNI, kata dia, sudah  berjuang empat tahun agar pemerintah menijau kebijakan yang kurang mendukung pengembangan industri hilir sawit mentah itu. Dengan keluarnya PMK  No. 128/PMK.011/2011, tertanggal 15 Agustus 2011 dan berlaku sebulan kemudian, membuat  ketentuan bahwa BK CPO dan produk turunannya dibedakan antara 6%-7%.
Artinya, lanjut dia, BK produk turunan CPO lebih rendah antara 6%-7% dibandingkan dengan CPO, sehingga industri hilir CPO akan tumbuh dan berkembang di Indonesia.
Dalam jangka pendek (tiga bulan ke depan), paparnya, utilisasi produk rafineri industri hilir CPO akan meningkat dari 40% menjadi 50%.
Pada 2012, jelanya, utilisasi pabrik rafineri di Indonesia yang berkapasitas terpasang19,8 juta ton per tahun akan meningkat menjadi 65%. (sut)

Leave a Reply